28
Jan
10

Kebolehan Menyentuh Mushaf Al-Qur’a n.

Para ulama sepakat bahwa kebolehan me­nyentuh mushaf Al-Qur’an hanya ditujukan kepada orang-orang/hamba-hamba yang disucikan saja, sedangkan hamba-hamba yang tidak disucikan tidak diperbolehkan. Hal ini didasarkan atas keterangan Al-Qur’an surah al-Waqi’ah ayat 77-80 yang arti­nya: “Sesungguhnya Al-Qur’an ini adalah bacaan yang sangat mulia, pada kitab yang terpelihara (Lauh Mahfuz), tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan. Diturunkan dari Tuhan Semesta Alam.”

Kata al-mutahharun dalam ayat 79 di atas mengandung beberapa pengertian. Dalam hal ini, tidak ada penegasan dari Al-Qur’an tentang apa yang dimaksud dengan kata itu. Dari sini timbul perbedaan penafsiran dan pemahaman para ulama, baik dari kalangan ulama tafsir maupun ulama fikih.

Syekh Abu Ah’ al-Fadl bin Hasan at-Tabarsi, seorang ulama tafsir abad ke-6 H, dalam kitabnya Majma’ al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an menafsirkan bahwa kata al-mutahharun itu mengandung tiga makna, yaitu para malaikat, orang-orang/hamba-hamba yang suci dari syirik, dan orang-orang yang suci dari Hadas dan junub. Muhammad Ali as-Sabuni, guru besar tafsir di Universitas King Abdul Aziz (Mekah), menyatakan dalam kitabnya Shafwat at-Tafasir bahwa kata al-mutahharun berarti para malaikat yang dinyatakan oleh Allah SWT sebagai hamba-hamba yang suci dari syirik, dosa, dan hadas atau orang-orang/hamba-hamba yang berwudu.

Hadis Rasulullah SAW juga tidak menegaskan dan tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata al-mutahharun itu. Dalam hadis hanya ditemukan kata tahirun, seperti yang disebutkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Imam Malik dari Amr bin Hazm; “Nabi SAW menulis, tidak menyentuh Al-Qur’an kecuali orang yang suci.”

Penggunaan kata tahirun yang bersifat umum dalam hadis juga mengundang perbedaan pendapat di kalangan ulama fikih. Jumhur (mayoritas) ulama fikih, termasuk Imam Malik, Imam Hanafi, dan Imam Syafi’i, berpendapat bahwa yang di­maksud dengan tahirun dalam hadis itu adalah orang yang berwudu. Karena itu, mereka berpendirian bahwa yang diperbolehkan menyentuh mus­haf Al-Qur’an hanyalah orang-orang yang ber­wudu. Menurut mereka, wudu merupakan syarat untuk memegang mushaf. Adapun ulama yang lain, seperti ulama Mazhab Zahiri, menolak pendirian ulama di atas dan mengatakan bahwa wudu tidak merupakan syarat untuk menyentuh mushaf Al-Qur’an; orang yang tidak berwudu boleh me­nyentuh mushaf.


4 Responses to “Kebolehan Menyentuh Mushaf Al-Qur’a n.”


  1. February 12, 2010 at 4:29 am

    mampir sejenak..
    pakabar mba’ ly..?
    ijin nyimak ya..

  2. February 22, 2010 at 6:01 pm

    duh bingung klo masalah fikih… soalnya ilmu ku masih dangkal

  3. March 31, 2010 at 5:17 am

    Cari aman aja, wudlu dulu sebelum ngaji.🙂

  4. 4 MSA TUANKU MACHUDUM
    December 15, 2010 at 1:02 am

    dari uraian diatas bagaimanakah kta membedakan mana yang mushaf atau yang tidak mushaf tolong diterngkan secara jelas lagi…..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Yang Poenya Blog

My Diary on Facebook

Almanak

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Roelly Categori’s

Yang Pada Ngoceh

ipink on 5 Perkara Sebelum 5 Perka…
citrA on Pek Tay atau Keputihan
muhammad fareed bin… on 5 Perkara Sebelum 5 Perka…
naiffyan on 5 Perkara Sebelum 5 Perka…
Hari on Glukoma

My Mood

My Unkymood Punkymood (Unkymoods)

Kotak Amal

Diary of Me

Blog Stats

  • 195,783 hits

%d bloggers like this: